Cerpen Berawal dari Teori Kuatum Max Planck

selamat datang di blogku......


Pagi meyambutku dngan indah kicauan burungpun ikut serta mengiringi langkahku, ditambah dengan sejuknya udara pagi, serta cerahnya matahari yang mengobarkan semangatku dalam menghadapi tantangan-tantangan yang menghampiriku.
Nama asliku M. Dzakiyyul Anwar orang tuaku menamaiku seperti itu, agar kelak nanti semua yang ada pada diriku semulia namaku, Muhammad dengan harapan kelak aku bias mempunyai sifat-sifat akhlakul karimah seperti Nabiyullah Muhammad SAW. Dzakiyyul yang berarti cerdas dan Anwar yang berarti menerangi dengan tujuan aku bisa menjadi tauladan bagi semua orang dan member contoh yang baik bagi umat.
Namun semua itu tak seperti yang diharapakan oleh kedua orang tuaku. Teman-temanku serta orang-orang disekitarku memanggilku dengan sebutan “Kasiyan” karena aku yang pendiam dan tak banyak bersosialisasi dengan teman-temanku dan orang-orang disekitarku. Serta nasibku yang tak begitu sama namaku.
Pagi menyapaku akupun bergegas untuk berangkat menuntut ilmu dengan teman-temanku dengan berjalan kaki kurang dari 15 menit aku telah sampai ditempat yang kutuju. Aku sangat senang karena hujan tak menghalangiku dan jarak antar rumah dan sekolahanku lumayan dekat membuatku pantang untuk meminta kepada orang tuaku membelikanku sepedah. Aku melanjutkan ke MA I Attanwir ini setelah aku lulus dari MI, ibuku menginginkanku untuk menjadi pribadi yang mengerti syariat islam. Disekolah ini juga banyak mata pelajaran umum, yang aku sukai diantara mata pelajaran itu adalah kimia. Yaaaa aku sangat suka dengan pelajaran ini, meskipun berkali-kali aku gagal dalam mengerjakan tugasku. Serta aku tak begitu faham namu semangat yang menuntutku untuk terus berusaha dan pantang menyerah, tak sedikit teman-temanku yang menjadikanku sebagai bahan ejekan. Namun itu semua tak sedikitpun yang mampu mempengaruhiku, beberapa setelah melepas sepatu dan masuk kelas. P Ricardpun menyapa kami semua, dengan murah senyum serta wajah yang berseri. Beliau adalah guru mata pelajaran kimia dikelasku, tak terasa sudah satu jam penuh kami berbincang dan membahas pertemuan perdana kami, waktu terus berjalan tak terasa jam meunjukkan pukul 12.30 tepat. Teeet teeet teeet belpun berbunyi dan kamipun berdo’a bersama sebelum pulang sekolah. Setelah itu kami pergi kemasjid terlebih dahulu sebelum pulang kerumah. Seusai shalat kamipun bergegas pulang, awan yang mulai gelap serta suara gemuruh yang semakin menjadi-menjadi sesampainya dirumah aku langsung pergi kedapur untuk menyantap makanan kesukaanku yaitu Ketela pohon dengan rasa lapar yang amat, Serta aromanya yang menggodaku akupun dengan lahap memakannya disampingku ibuku bertanya padaku.
Ibu, Enak Leeeee (Enak nak?)
Aku, Nggeh Buuu!!! (Iya bu)
Setelah lama berbincang ibuku selalu mengingatku untuk selalu menela’ah pelajaran yang telah kudapatkan, supaya aku tak gampang lupa, tak terasa aktifitasku hari ini telah usai semua. Kleeek kleeek jamku menunjukkan pukul 21.00 tepat akupun bergegas untuk beristirahat agar esok harinya, aku bias aktifitasku dengan sempurna.
Kukuruyuk…..ayam berkokok disana sini, akupun bangun dengan sebelah mata sampai-sampai aku tak menyadari kalau didepanku ada tiang tegak, dan aku menabraknya.
Tak terasa matahari menyambutku untuk berpetualang lagi, akan tetapi kali ini aku mendapat hukuman dari P. Ricard karena aku telat, kami disuruh mengerjakan tugas yang dituliskan kemaren. Semua teman-temanku sudah selesai maju, kini tiba giliranku dengan penuh rasa PD aku maju dan mengerjakan tugas itu. P.Ricacrdpun mengoreksitugas kami tak kusangka jawaban itu betul, selain jawaban padaku P.Ricard menoleh padaku dan memberi semangat kepadaku. Hari ini P.Ricard mengajak kami untuk membahas tentang teori kuantum Max Planck dan beliau member tugas kepada kami tentang teori kuantum Max Planck karena saat ini kami belajar tentang ilmu itu. P.Ricard : Siapa saja yang dapat memperoleh fakta yang mendukung keberanian teori kuantum Max Planck akan mendapat hadiah lhooo?!! (Bertanya sambil tersenyum)
Tak kusangka seminggusudah tugas itu berlalu kini tiba saatnya, saat-saat yang mendebarkan jawaban demi jawaban telah dilontarkan teman-temanku. Tak sedikit jawaban yang membuat kagum. P.Ricard begitu aku, rasa Pd ku terkuras habis dan tibalah saatnya giliranku.
Akupun menarik nafas dalam-dalam dan mengemukakan jawabanku P.Ricard sekarang giliranmu Dzaki apa jawabanmu???
Aku : Heeeeem heeeeeem ……Salah satu fakta yang mendukung keberanian kuantuam Max Planck adalah efek foto listrik dimana keadaan cahaya lampu mengeluarkan electron dari permukaan beberapa logam seperti alkali.
Jawaban demi jawaban kulontarkan 10 menit berselang P.Ricardpun member pengumuman dengan rasa takut akan kekalahan, aku pasrahkan semua terhadap Tuhan. Mata P.Ricard mengarah di meja temanku yang tepat berada disampingku dan 3…2….1 M. Dzakiyyul Anwar selamat jawabanmu benar dengan perasaan yang sangat senang akupun meloncat kegirangan hadiahpun aku dapatkan.
Tak kusangka dan tak kukira semua usahaku tidaklah sia-sia berawal dari belajar dan pengamatan tentang teori kuantum Max Planck ini. Teman-temanku serta orang-orang yang ada disekitarku tidak lagi mengejekku serta merendahkanku. Akupun mempunyai julukan baru yang akupun yang tak biasa mendengarnya “MAX PLANCK”.

Nama : A. Jailani
Kelas : XI A