Salam Info Gak Jelas.Com - Kesadaran Lokal untuk memperjelas Info-Info yang gak jelas Menjadi jelas dan berwawasan tinggi menurut relativitas ruang dan waktu. Internet positif Yes Internet Negatif No .
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang Masalah
Salah
satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang
berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru
berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui proses belajar
mengajar. Di tangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas,
baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan
emosional, dan morfal serta spiritual. Dengan demikian, akan dihasilkan
generasi masa depan yang siap hidup dengan tantangan zamannya. Oleh
karena itu, diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan
dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya.
Guru
adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dan jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah (Kunandar, 2009: 54).
Menurut
Kunandar (2009) upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan berbagai
pendekatan, baik pendekatan kelembagaan, legal formal, maupun pemberdayaan
sumber daya pendidikan. Pendekatan kelembagaan salah satunya melalui lahirnya
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen
PMPTK). Pendekatan Legal formal melalui serangkaian perundang-undangan
(peraturan) yang berkaitan dengan pendidikan, seperti UU Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan, dan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen. Pendekatan pemberdayaan sumber daya pendidikan dilakukan dengan
melakukan kegiatan peningkatan kompetensi dan kualifikasi tenaga pendidik dan
kependidikan secara dan berkesinambungan.
Manfaat
dari pentingnya topik masalah ini adalah sebagai salah satu acuan dan bahan
diskusi lebih lanjut bagi para guru dalam melaqksanakan tugas profesionalnya.
Selain itu dapat memberikan manfaat bagi kalangan masyarakat pendidikan,
terutama para guru dalam upaya menuju guru yang professional sebagaimana
tuntutan masyarakat dan undang-undang. Diskusi-diskusi mendalam trentang
tugas-tugas professional guru perlu didorong lebih intensif lagi melalui
revitalisasi dan pemberdayaan KKG/MGMP di wilayah masing-masing. Dengan
demikian, diantara para guru akan terjadi transfer informasi dan pengalaman
satu sama lain,yang pada gilirannya akan me,mpercepat proses peningkatan mutu
pendidikan di tanah air.
Tujuan
yang diharapkan adalah tuntutan profesionalisme guru harus disikapi dengan
peningkatan kualifikasi dan kompetensi, apalagi sekarang ada keharusan
mengikuti uji sertifikasi untuk menentukan kelayakan seorang guru. Oleh karena
itu, guru jangan sampai terkena “jebakan rutinitas” dimana guru
hanya disibukkan dengan kegiatan sehari-hari sehingga lupa dengan peningkatan
kompetensi dan profesionalisme.
B. Pembahasan Masalah
Beberapa
pokok permasalahan pendidikan di Indonesia menurut Umar (2004) adalah:
1.
Belum ada standar nasional
2.
Kurikulum nasional dan strukturnya
3.
Sistem ujian
4.
Sistem Akreditasi
5.
Sistem pemantauan mutu pendidikan
6.
Sistem birokrasi pendidikan
Tugas dan peran guru dari hari ke
hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu
mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berkembang dalam masyarakat.
Sementara itu, menurut Mulyasa
(2005) sedikitnya ada tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru dalam
pembelajaran, yaitu:
1.
Mengambil jalan pintas dalam
pembelajaran.
2.
Menunggu peserta didik berperilaku
negatif.
3.
Menggunakan destructive disclipner.
4.
Mengabaikan perbedaan peserta didik.
5.
Merasa paling pandai dan tahu.
6.
Tidak adil (diskriminatif).
7.
Memaksa hak peserta didik.
B.
Tujuan Penulisan
1) Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah S1 PGSD KPP Soko.
2) Menambah wawasan dan ilmu bagi
penulis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Statement
Teori
Penyempurnaan
sistem pendidikan menitikberatkan pada (Dirtektorat Menengah Umum Depdiknas,
2003) adalah:
1.
Pertama, pelaksanaan otonomi pengelolaan pendidikan.
2.
Kedua, pelaksanaan
wajib belajar Sembilan tahun.
3.
Ketiga, pengembangan
dan pelaksanaan kurikulum yang menekankan pada kompetensi.
4.
Keempat, penyelenggaraan sistem pendidikan yang terbuka.
5.
Kelima, peningkatan
profesionalisme tenaga kependidikan.
6.
Keenam, pembiayaan
pendidikan yang berkeadilan.
7.
Ketujuh, pengawasan, evaluasi, dan akreditasi pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut di atas,
maka ditetapkanlah tujuan pembangunan pendidikan nasional jangka menengah
sebagai berikut:
a) Meningkatkan penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
1. Meningkatkan pemerataan kesempatan
belajar pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan bagi semua warga
Negara secara adil, tidak diskriminatif, dan demokratis tanpa membedakan tempat
tinggal, status sosial ekonomi, jenis kelamin, agama, kelompok etis, dan
kelainan fisik, emosi, mental serta intelektual..
2. Menuntaskan Program Wajib Belajar
Pendidikan Dasar 9 tahun secara efisien, bermutu, dan relevan sebagai landasan
yang kokoh bagi pengembangan kualitas manusia Indonesia.
3. Meningkatkan kualitas pendidikan
dengan tersedianya standar pendidikan nasional dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM), serta meningkatkan kualifikasi minimum dan sertifikasi bagi
tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya.
B. Statement Fakta
Sebagai
organisasi pembelajar bertumpu pada lima aktivitas utama, seperti sebagai
berikut:
- Pemecahan masalah secara sistematis.
Dalam mengidentifikasikan dan merumuskan serta memecahkan
setiap masalah yang muncul, sekolah menggunakan cara berpikir ilmiah dengan
dukungan data empirik yang tersedia.
2. Uji coba.
Sekolah jangan segan dan ragu untuk
selalu mencari dan mencoba cara, pendekatan, prosedur, serta gagasan baru untuk
memperbaiki keadaan.
3.
Belajar dari pengalaman.
Sekolah selalu mengkaji keberhasilan dan kegagalan yang
diraihnya, misalnya secara sistematis dan mencatat serta menjadikan pelajaran
terpetik tersebut sebagai pengetahuan bersama warga sekolah. Kegagalan masa
lalu yang dialami sekolah menjadi pelajaran agar tidak terulang dan menjadi
pijakan untuk mencari alternatif lain.
4.
Belajar dari pihak/orang lain.
Sekolah perlu melakukan perbandingan dengan sekolah atau
lembaga lain untuk nmemperoleh perspektif baru. Keberhasilan yang dilakukan
lembaga lain dapat dijadikan masukan untuk perbaikan dan tolak ukur (benchmarks).
5.
Transfer pengetahuan.
Sekolah sebagai organisasi pembelajar mendorong warga
sekolah untuk secara aktif dan proaktif melakukan pertukaran informasi,
gagasan, pengetahuan, dan pengalaman.
BAB
III
KESIMPULAN
Sikap dan sifat-sifat guru yang baik
adalah sebagai berikut:
- Bersikap adil.
- Percaya dan suka kepada murid-muridnya.
- Sabar dan rela berkorban.
- Memiliki wibawa dihadapan peserta didik.
- Penggembira
- Bersikap baik terhadap guru-guru lain.
- Bersikap baik terhadap masyarakat.
- Benar-banar menguasai mata pelajarannya.
- Suka dengan mata pelajaran yang diberikannya.
- Berpengetahuan luas.
DAFTAR
PUSTAKA
Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas. 2003. Standar
kompetensi Guru SMU. Jakarta: Depdiknas.
Kunandar. 2009. Guru Profesional (Impelementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi
Guru). Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Mulyasa. 2005. Implemkentasi Kurikulum 2004.
Bandung: Rosda Karya.
Umar, Jahja. 2004. “Pengembangan Sistem Penilaian
Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Nasional di Era Global”, Makalah Seminar
Nasional Pendidikan, HEPI, Yogyakarta.


Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan
3. Berilah Informasi Kepada Admin Jika ada script yang Sudah tidak berfungsi
5. komentar Jorok/kasar /berbau Sara/Porno /saya anggap sebagai SPAM
6. like dan komentarnya